cool hit counter

PCIM Inggris - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Inggris
.: Home > Berita > Ber-Muhammadiyah sebagai Pengalaman: Sebuah Catatan dari Inggris

Homepage

Ber-Muhammadiyah sebagai Pengalaman: Sebuah Catatan dari Inggris

Jum'at, 05-05-2016
Dibaca: 503

Pada tanggal 19 Desember 2015 lalu, PCI Muhammadiyah Inggris Raya baru saja menggelar Musyawarah Cabangnya. Terpilih sebagai Ketua PCIM UK yang baru, Zain Maulana, Kandidat PhD di University of Leeds. Saya sendiri diminta untuk menjadi salah satu Ketua Majelis pada kepengurusan ini.
Saya ingin sedikit berefleksi tentang keberadaan Muhammadiyah di luar negeri. Apa pentingnya Muhammadiyah memiliki cabang istimewa di luar negeri? Bukankah Muhammadiyah sudah cukup besar di dalam negeri, berusia lebih dari satu abad?
Syahdan, KH Ahmad Dahlan pernah berpetuah, "Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu."
Ada beberapa hal yang menarik dari pesan KH Ahmad Dahlan tersebut. Pertama, Muhammadiyah di masa kini berbeda dengan Muhammadiyah di masa mendatang. Artinya, cara mengorganisasikan Muhammadiyah di masa kini tentu saja berbeda dengan cara Muhammadiyah berorganisasi di masa lalu. Lebih jauh lagi, ber-Muhammadiyah di masa kini, dimana teknologi dan jejaring sudah sedemikian menghiasi kehidupan manusian juga berbeda dengan ber-Muhammadiyah di masa KH Ahmad Dahlan dulu. KH Ahmad Dahlan sudah mengantisipasi hal ini sejak masa dulu. Oleh sebab itulah ia menyebut Muhammadiyah, dalam salah satu naskah di percetakan Suara Muhammadiyah, sebagai Gerakaan “Islam Berkemajuan”.
Kedua, karena sadar bahwa Muhammadiyah di masa beliau akan berbeda dengan Muhammadiyah di masa mendatang, beliau berpesan kepada semua warga Muhammadiyah untuk terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan di mana dan ke mana saja. Kata kunci yang diberikan oleh Kyai Dahlan adalah ‘pendidikan’ dan ‘pengetahuan’. Menarik karena beliau melihat dua hal ini sebagai dua hal yang berbeda. Terdidik, jika boleh diinterpretasikan, adalah menempuh pendidikan formal. Oleh sebab itulah Muhammadiyah punya institusi-institusi pendidikan dari TK Aisyiah hingga Universitas Muhammadiyah. Namun demikian, terdidik bukan berarti berpengetahuan. Pengetahuan tidak melulu didapatkan di ruang-ruang kuliah, melainkan terus berkembang dan dikembangkan. Di sini, beliau punya kata kunci yang lain: menuntut ilmu pengetahuan di mana dan ke mana saja -terutama ke pusat-pusat riset dan pengkajian ilmu pengetahuan di seluruh dunia.
Ketiga, Dengan tuntutan tersebut, maka KH Ahmad Dahlan mendorong warga-warga Muhammadiyah untuk menjadi seorang ahli dan profesional di bidangnya. Beliau berpesan, “Menjadilah dokter (master, insinyur, dll) sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah”. Beliau tidak berpesan untuk menjadi anggota Muhammadiyah terlebih dulu, baru menjadi dokter. Yang beliau pesankan adalah: menjadilah Dokter, Insinyur, Master, Ilmuwan Sosial, diplomat, agamawan, arsitek, dan semacamnya, lalu kembalilah untuk mengembangkan profesinya di Muhammadiyah. Dengan adanya orang-orang yang terdidik dan berpengetahuan, Muhammadiyah menjadi kaya dengan sumber daya manusia dan siap mencerahkan manusia.
Tiga pesan ini menarik untuk dibaca dan direnungkan kembali. Bagi warga Muhammadiyah di luar negeri saat ini, tiga pesan ini berarti juga pesan untuk menghidupkan tradisi keilmuan, baik dalam keseharian maupun di persyarikatan. KH Ahmad Dahlan sudah berpesan untuk mampu menangkap ‘tantangan zaman’. Artinya, pengetahuan menjadi pilar yang sangat penting agar Muhammadiyah mampu mempertajam spirit ‘Berkemajuan’-nya tanpa harus mengesampingkan identitas ‘Islam-nya’.
Pada titik inilah Muhammadiyah menjadi penting untuk dihidupkan di luar negeri. Saat ini, sudah tercatat 16 Cabang Istimewa Muhammadiyah dideklarasikan di luar negeri. Tantangan pengembangan ‘Cabang Istimewa’ ke depan, saya kira, bukan hanya menghimpun warga-warga Muhammadiyah yang kebetulan sedang merantau di luar negeri (entah untuk keperluan studi, bekerja, atau menjadi dependant) melainkan juga untuk memahami, mempelajari, dan ‘menyerap’ pengetahuan yang terserak di berbagai tempat itu dan menjadikannya dasar untuk mengembangkan Persyarikatan.
Hal ini mengimplikasikan perlunya reorientasi organisasi, perkaderan, dan yang paling penting ‘semangat’ dalam ber-Muhammadiyah di luar negeri. Sejauh ini, Muhammadiyah di luar negeri (secara spesifik: Inggris) lebih banyak digerakkan oleh dosen atau staf Amal Usaha Muhammadiyah yang kebetulan sedang menempuh studi di luar negeri. Sebagian lain adalah warga Muhammadiyah yang pernah berkecimpung di Persyarikatan ketika berada di tanah air dan ingin melanjutkan interaksinya dengan Muhammadiyah di luar negeri. Mayoritas adalah mereka yang sudah pernah punya pengalaman ber-Muhammadiyah di dalam negeri dan kemudian melanjutkannya di luar negeri.
Namun demikian, selain mereka yang sebelumnya pernah berkecimpung dalam persyarikatan, baik di Ortom dan AUM, sebetulnya banyak lagi mereka yang sebelumnya juga pernah punya pengalaman berinteraksi dengan Muhammadiyah. Ada yang pernah mengenyam pendidikan di Sekolah-Sekolah Muhammadiyah (TK-SMA), Pesantren Muhammadiyah, Universitas, atau setidaknya pernah dirawat/berobat di PKU/Rumah Sakit Muhammadiyah. Mungkin mereka tidak pernah berkecimpung dalam kepengurusan Cabang/Ranting. Namun, terutama bagi lulusan Sekolah-Sekolah Muhammadiyah, setidaknya mereka pernah menerima ‘mata pelajaran’ Kemuhammadiyahan atau pernah ikut pengajian-pengajian yang diselenggarakan Persyarikatan (bagi Orang Tua/Wali siswa), sehingga sedikit banyaknya punya sense Ke-Muhammadiyah-an yang cukup kental.
Hal ini memunculkan sebuah perspektif dalam ber-Muhammadiyah, yaitu “ber-Muhammadiyah sebagai Pengalaman”. Ada banyak orang yang ber-Muhammadiyah sebagai pengalaman dalam hidupnya, baik sengaja (dengan mendaftar sekolah, misalnya) atau tidak sengaja (sekadar ikut pengajian/dirawat di RS). Mereka yang ber-Muhammadiyah dalam pengalaman hidupnya ini kemudian berdiaspora ke banyak tempat lain: ada yang berkelana ke organisasi-organisasi Islam, organisasi profesi, atau sekadar membangun organisasi rumah tangga bersama keluarganya.
Hal ini penting untuk ‘ditangkap’ Persyarikatan sebagai aset yang tak terpisahkan dalam perjalanan satu abad Persyarikatan selama ini. Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah semestinya tidak kekurangan Sumber Daya Manusia dalam menjalankan roda organisasi. Tantangannya, sebagaimana dipotret dengan sangat baik oleh Asep Purnama Bahtiar dalam salah satu makalahnya, adalah reorientasi perkaderan dan keorganisasian di Persyarikatan. Dalam konteks Cabang Istimewa, ini berarti perkaderan Persyarikatan tidak boleh stagnan hanya pada anggota yang pernah berkecimpung di Persyarikatan sebelumnya, tetapi juga aktif dalam memperkenalkan Muhammadiyah bagi warga Indonesia lain atau justru bagi masyarakat internasional.
Syahdan, Persyarikatan punya tiga pilar kaderisasi yang saling menopang satu sama lain: keluarga, organisasi otonom, dan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan. Asep Purnama Bahtiar menambahkan satu variabel lagi: pimpinan. Empat pilar kaderisasi ini penting untuk dikembangkan untuk mengakomodasi kebutuhan Cabang-Cabang Muhammadiyah di luar negeri. Muhammadiyah Cabang Istimewa perlu mengembangkan model perkaderan yang relevan dengan perkembangan dunia dan masyarakat kita saat inilah. Sehingga, Cabang Istimewa mampu berperan aktif sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan dulu: menjadi Doktor, Master, dan Profesional, lalu kembali ke Muhammadiyah.
Nashrun Minallah wa Fathun Qariib.
Sheffield menuju Newcastle, 7.1.2016

Oleh: AHMAD RIZKY MARDHATILAH

 


Tags: Muhammadiyah
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori:



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website